RUANG TERBUKA HIJAU DAERAH PERKOTAAN

RUANG TERBUKA HIJAU DAERAH PERKOTAAN

LALU RAZIEB ARIAHARFI

105060607111023

Abstrak


RTH merupakan suatu lahan terbuka yang dijadikan daerah penghijauan ditengah kota atau di suatu wilayah.  Berbagai fungsi juga terdapat pada RTH ini selain pada fungsi utama yaitu untuk mengurangi dampak Global Warming. Tapi sampai saat ini masih sangat sedikit orang yang sadar akan pentingnya RTH di pusat kota. Bahkan banyak RTH di berbagai daerah di Indonesia dialih fungsikan menjadi suatu pusat perbelanjaan ataupun untuk menambah luas jalan. Indonesia saat ini sudah kehilangan sangat banyak hutan, sebenarnya untuk mengurangi dampak dari pemanasan global di daerah perkotaan di Indonesia yang sudah semakin padat dengan berbagai jenis bangunan adalah RTH. RTH yang sebenarnya adalah paru-paru kota kini kurang disadari oleh banyak orang. Paru-paru manusia yang tidak sehat akan sangat membahayakan manusia itu sendiri, sama halnya yang terjadi di berbagai kota di Indonesia saat ini. Inilah cermin keprihatinan bangsa Indonesia, apabila RTH saja tidak bisa dilestarikan maka tidak mengherankan apabila Indonesia tidak bisa menjaga hutannya sendiri. Karena itu untuk mengurangi dampak pemanasan global didaerah perkotaan sangatlah penting peran pemerintah dan masyarakat sekitar untuk terus menjaga kelestarian Ruang Terbuka Hijau dan bila perlu Ruang Terbuka Hijau disetiap kota di Indonesia ditambah.

Keyword: kota, pemanasan global, paru-paru kota.



RTH is an open land area used as greenery in the middle of a city or a region. Various functions are also located on this green space in addition to the main function is to reduce the impact of Global Warming. But until now still very few people are aware of the importance of green space in downtown. Even a lot of green space in the various regions in Indonesia converted into a shopping center or to increase the area of road. Indonesia is already losing so much forest. The actual green space is the city lungs less realized by many people. Human lungs are not healthy will be very dangerous to himself, just as is happening in various cities in Indonesia at this time. These concerns mirror the nation of Indonesia, if the green space could not be preserved it is not surprising if Indonesia can not maintain their forests. Therefore, to reduce the impact of global warming in urban areas is extremely important role of all levels of society to continue to preserve green open space and green open space where necessary in every city in Indonesia added.

Keyword: city, global warming, the lungs of the city.

Pendahuluan

Ruang terbuka hujau atau biasa disingkat dengan RTH adalah suatu ruang yang dalam suatu wilayah atau kota yang diajdikan taman atau seperti hutan kota.  Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam (Peraturan Mentri Pekerjaan Umum Nomor : 05/PRT/M/2008).

Ruang terbuka hijau sat ini sangat jarang kita temukan.  Di daerah perkotaan yang seharusnya menurut peraturan pemerintah yang diatur dalam UU No.26 tahun 2007 tentang Tata Ruang harus memiliki setidaknya 30% lahannya adalah RTH saat ini masih sangat sulit untuk diterapkan.  Meningkatnya kebutuhan daerah perkotaan untuk pemukiman, perkantoran, industri, dan sarana lainnya mengakibatkan semakin sulitnya ditemukan RTH.  Bahkan tidak banyak di daerah perkotaan yang mengubah RTH mereka menjadi pertokoan atau pusat industri untuk dijadikan pusat perdagagan atau taman rekreasi.

Awal kerusakan alam telah dimulai dari hilangnya RTH yang seharusnya ada di setiap daerah.  Hal ini jika tidak segera ditanggulangi maka akan berdampak sangat buruk bagi masa depan bumi.  Salah satu cara untuk menanggulanginya adalah dengan mencengah adanya alih fungsi RTH.  Banyak RTH yang dialihfungsikan menjadi bangunan atau ruko.  RTH atau ruang terbuka hijau mempunyai fungsi sebagai paru-paru daerah perkotaan yang dapat berfungsi untuk menyaring udara-udara kotor yang dapat mnimbulkan penyakit, karena itu RTH sangat penting untuk kelangsungan hidup manusia di daerah perkotaan.

RTH Sebagai Paru-paru Kota

RTH atau Ruang Terbuka Hijau adalah ruang yang disediakan dengan didalamnya ditanami berbagai macam tumbuhan dengan fungsi untuk membersihkan udara-udara kotor yang ada.  RTH saat ini sangat sulit untuk ditemukan didaerah perkotaan.  Selain karena perkembangan zaman yang menuntut adanya pembangunan-pembangunan pusat industri berkurangnya RTH didaerah perkotaan juga disebabkan karena alternatif lain untuk mengatasi macet, seperti dijakarta banyak pohon yang di tebang untuk dibangun jalan dan bebagai fasilitas lain untuk mengatasi macet.

Ruang terbuka hijau, saat ini sepertinya pemerintah daerah masih menyepelekan hal ini.  Dilihat dari beberapa fakta yang ada didaerah perkotaan diIndonesia pemerintah masih mementingkan pembangunan ruko atau mall didaerahnya. Seperti contoh di Malang,  lahan di Matos yang semula adalah RTH sekarang dialih fungsikan menjadi Mall.  Sangat mengherankan hal itu terjadi ditengah Global Warming  yang saat ini melanda bumi.

Membahas masalah RTH sebagai paru-paru kota lebih lanjut

(Hasni 2009:43)

Dengan semakin tipisnya RTH sebagai “paru-paru” kota di seluruh duia secara akumulatif, tentu akan berakibat fatal, dicirikan dengan naiknya suhu bumi tidak hanya dialami oleh satu pulau saja, tetapi akan terus merembet ke pulau-pulau lain bahkan ke mancanegara melampaui batas administraifnya masing-masing.

Ruang Terbuka Hijau yang seharusnya sebagai paru-paru kota banyak orang saat ini menyepelekan fungsinya termasuk pemerintah saat ini.  Kota sama halnya dengan manusia, jika paru-paru manusia rusak maka tentu akan sangat berdampak pada kesehatan manusia dan bukan tidak mungkin apabila manusia tersebut meninggal karena paru-paru merupakan organ tubuh yang sangat vital untuk membantu pernafasan.  Jika saat ini RTH yang sudah sangat berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya terus dikurangi dan dijadikan pusat perdagangan atau untuk kepentingan perkembangan zaman mungkin saja kiamat bagi bumi akan semakin dekat.

Fungsi-fungsi RTH diKota

Ruang Terbuka Hijau memiliki beberapa fungsi yang sangat vital bagi kelangsungan hidup manusia terutama yang tinggal didaerah perkotaan yang pada umumnya memiliki jumlah penduduk yang lebih padat dan bangunan yang berdesakan.

Membahas masalah fungsi RTH lebih lanjut

Hasni (2009:40-41)

RTH secara rinci mempunyai beberapa multi-fungsi antara lain, sebagai penghasil oksigen,bahan baku pangan, sandang, papan, bahan baku industri, atau disebut sebagai fungsi ekologis, melalui pemilihan jenis dan sistem pengelolaannya yang tepat dan baik maka tanaman atau kumpulannya secara rinci dapat berfungsi pula sebagai, pengatur iklim mikro, penyerap dan penjerap polusi media udara, air dan tanah, jalur pergerakan satwa, penciri (maskot) daerah, pengontrol suara, pandangan dan lain-lain.

Menurut Indraswara (2006:30) Taman yang berfungsi sebagai paru-paru kota ini mulai terlihat manfaat dan fungsinya misalnya yaitu taman ini dimanfaatnkan sebagai tempat pameran tumbuh-tumbuhan / bunga, sebagai tempat makan dan bersantai karena terdapat pedagang kaki lima yang menjual macam-macam menu makanan.

Selain berguna untuk menetralisir racun dan udara kotor yang ada di daerah perkotaan, RTH juga dapat berfungsi sebagai taman kota.  Taman kota sangat berguna untuk menjadi tempat rekreasi atapun untuk refresing.  Setiap orang yang stress dengan pekerjaannya yang menumpuk dan butuh hiburan ataupun menangkan diri dapat melakukannya disana. Beban kesibukan manusia didaerah perkotaan sangat padat, tidak akan sempat apabila ingin liburan keluar daerah ataupun tempat yang jauh, karena itu taman kota juga dapat menjadi alternativ tempat refresing. Di pagi hari disekitarnya juga bisa dijadikan tempat melakukan jogging ataupun olahraga-olahraga ringan lainnya.  Karena itu peran dari pemerintah dan masyarakat sekitarna sangat diperlukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.  Menjaga tanaman dan segala fasilitas yang ada disana sangat perlu dilakukan agar dapat tetap terjaga dan tidak dialih fungsikan.

Berkurangnya daya resap dari tahun ke tahun bahkan sekarang ini nilai pebandingan yang ada sudah berbalik yang mana seharusnya 20% sebagai run off dan 80% sebagai infiltrasi saat ini berubah menjadi 20% adalah infiltrasi 80% adalah run off (Supriyatna et al 2008:4). Daya resap air adalah salah satu fungsi RTH. Jika RTH berkurang maka akan menyebabkan banjir. Air yang semula dapat diserap dan menjadi cadangan air tanah kini berkurang dan berbalik menjadi malapetaka bagi kelangsungan hidup didaerah perkotaan.

RTH Kota di Indonesia
Kita melihat daerah di Indonesia belum banyak yang RTH didaerahnya sesuai dengan peraturan pemerintah yang diatur dalam UU No.26 tahun 2007 tentang Tata Ruang. Banyak daerah yang menyepelekan fungsi dari RTH yang seharusnya dipikirkan serius.  Salah satu contoh kurang perhatiannya pemerintah terhadap RTH adalah dikota Malang.  RTH di Kota Malang hanya tinggal empat persen dari seluruh luas wilayah yang mencapai 110,06 kilometer persegi. Sedangkan lahan resapan air hanya tinggal 40 persen. Ini sudah di ambang batas dan menyalahi aturan pemerintah (abisatya 2009). Malang semula adalah kota yang daerahnya terkenal cukup dingin kini mulai panas karena mulai berkurangnya RTH. Hal itu seharusnya menjadi perhatian serius Pemerintah dan pihak terkait.

(Mangkoedihardjo 2008:4-5)

Pendekatan tradisional dalam penetapan luas RTH adalah berdasarkan persentase luas kota. Kebanyakan literatur mencatat luas RTH berkisar antara 20 % sampai 40 % luas kota. Belakangan ini, peraturan pemerintah Indonesia PP 63/2002 tentang hutan kota mengatur luas RTH minimum 10 % luas kota. Peraturan itu menggantikan instruksi menteri dalam negeri, yang menginstruksikan luas RTH minimum 40 % luas kota. Luas RTH minimum dalam peraturan baru lebih kecil dibanding dalam instruksi lama dan juga dalam UU 41/1999 tentang kehutanan, yang menetapkan luas hutan minimum sebesar 30 % luas daerah aliran sungai. Filosofi penetapan luas RTH adalah tidak jelas, karena itu metode baru telah dikembangkan berdasarkan jumlah Penduduk.

Menyambung masalah RTH di daerah perkotaan lebih lanjut

(Hasni 2009:41)

Sejak diterbitkannya instruksi Menteri Dalam Negeri NO. 14 Tahun 1988 tentang pengelolaan RTH kota, sampai kini tak kunjung diikuti oleh semacam pedoman teknis dan atau pedoman pelaksanaan yang lebih rinci dalam menyambut dan mendukung pola swadaya kepemerintah sebagaimana diharapkan.


RTH berbasis jumlah penduduk telah dibuat berdasarkan metodologi kesetaraan penggunaan air pada tabel 1 (Mangkoedihardjo 2008:5).
Tabel 1
Tabel : Greenspace area for selected cities in Indonesia using WE method
City
and
Year
City Area
(Ac)
Sq-km
Population
Number
(P)
Million
Greenspace unit
(GU)
Sq-m/cap
Greenspace area
(GA)
Sq-km
Greenspace area
Over city area
%
Jakarta
(2000)
(2005)
(2025)
662

8.3
9.0
11.0

12
12
11

98
106
120

15
16
18
Surabaya
(2000)
2005)
(2025)
340

2.8
2.9
3.2

18
18
17

51
52
55
15
15
16
Semarang
(2000)
(2005)
(2025)
374

1.4
1.5
1.8

23
22
21

32
34
38

9
9
10
Surakarta
(2000)
(2005)
(2025)
44

0.5
0.6
0.9

33
31
27

18
18
24

41
42
55
Yogyakarta
(2000)
(2005)
(2025)
33

0.4
0.5
0.8

35
33
28

14
18
22

42
56
67
Satuan RTH:GU = 29 P0..3 – 3.2; Luas RTH:GA = 29 P0..7-3.2 P (P= jumlah penduduk dalam jutaan jiwa)
Pada skala yang ditentukan untuk volume media lingkungan kota, diperoleh satuan luas RTH adalah semakin kecil sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk. Contoh diberikan untuk kota Surabaya yang mempunyai luas kota 340 Km2 dengan jumlah penduduk 2.8 Juta (2000) dan 3.2 Juta (2005) yang dilihat pada gambar 1 (Mangkoedihardjo 2008:6).

Masalah yang Terjadi
Berkurangnya RTH didaerah perkotaan tentu akan menyebabkan suhu kota akan menjadi  semakin panas, hal ini disebabkan karena adanya pembuangan gas rumah kaca yang tidak diimbangi dengan penanaman pohon. Penggunaan kendaraan bermotor setiap hari selalu  bertambah dan tidak diimbangi dengan penanaman tumbuhan yang banyak juga. Selain itu karena semakin panasnya suhu didaerah perkotaan menyebabkan tidak sedikit rumah yang menggunakan Air Conditioner yang mengandung CFC. Keadaan itu semakin memperparah keadaan bumi yang sudah sangat parah. Belum lagi dengan penggunaan energi dari AC yang tergolong boros listrik. Itulah yang menyebabkan panas bumi khususnya didaerah perkotaan semakin hari semakin meningkat. Semakin kritis dan parah kondisi bumi kita saat ini.

Selain itu berkurangnya RTH dapat menyebabkan banjir. Lahan RTH yang semula dapat dijadikan daerah resapan air apabila dihilangkan maka air tersebut akan merembes ketempat lain menjadi genangan yang disebut banjir. Di daerah perkotaan dengan berbagai macam pusat industri yang ada apabila terjadi banjir maka akan sangat mengganggu perekonomian disana. Bahkan daerah perkotaan akan rugi miliaran rupiah akibat lumpuhnya perekonoman mereka akibat banjir. Seperti yang terjadi di Jakarta ketika banjir, banyak toko, perusahaan, dan kantor-kantor tidak bisa bekerja optimal karena terhalang oleh banjir. Para karyawan atau buruh tidak bisa menuju pabrik atau kantor karena jalur ketempat tujuan terhambat. Banyak toko tutup karena toko mereka tergenang air. Tentunya hal ini sangat merugikan daerah perkotaan. Seharusnya semua pihak memperhatikan dampak ini sebelum melakukan alih fungsi RTH dikota.

Penutup
Sebenarnya di Indonesia sangat banyak hutan yang ada, tapi karena kurangnya pengawasan dan pengetahuan warga akan pentingnya hutan maka tidak sedikit juga hutan yang ditebang tanpa adanya izin seperti banyak yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Hutan di Indonesia adalah paru-paru dunia tetapi masih saja terjadi banyak illegal loging.

Indonesia memang masih jauh dari harapan, jangankan untuk menjaga hutan sendiri, bahkan untuk menjaga RTH di daerah perkotaan saja masih tidak bisa. Ditengah pemanasan global yang semakin parah Indonesia masih saja mementingkan hal yang lain daripada untuk penghiajuan kota. Perlu perhatian serius dari semua pihak untuk mencapai tujuan yaitu kota hijau.

Berbagai masalah terjadi saat ini dengan semakin berkurangnya RTH di perkotaan. Masalah yang terjadi seperti banjir dan suhu bumi terutama pada daerah perkotaan sudah jauh meningkat dibandingkan dulu. Jika tidak ada perhatian serius dari setiap masyarakat dan pemerintah maka akan menjadi malapetaka bagi kelangsungan manusia di Bumi.
Permasalahan yang terjadi di daerah perkotaan saat ini sangatlah rumit. Jika tidak ada kesadaran kita sebagai manusia untuk menjaga dan melestarikan RTH yang ada didaerah perkotaan saja, maka alangkah sulitnya untuk melestarikan Hutan yang ada di Negeri kita ini yang sangat banyak jumlahnya.

DAFTAR PUSTAKA
Kirmanto D. (2008). Peraturan Mentri Pekerjaan Umum Nomor : 05/PRT/M/2008 tentang PEDOMAN PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN PERKOTAAN, http://landspatial.bappenas.go.id/peraturan/the_file/permen05-2008.pdf (12 Desember 2010)

Hasni, (2009). Ruang Terbuka Hijau dalam Rangka Penataan Ruang. http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/42093965.pdf. Jurnal Hukum. IV (2): 40-44. (17 Desember 2010).

Abisatya, (2009). Ruang Terbuka Hijau Kota Malang Tinggal Empat Persen. http://abisatya.wordpress.com/2009/05/12/ruang-terbuka-hijau-kota-malang-tinggal-empat-persen/. (19 Desember 2010).

Supriyatna, Y., Laihad, C.H. & Sudradjad. (2008). Banjir, Banjir dan Banjir. http://bpksdm.pu.go.id/ppktk/assets/Uploads/Jurnal-vol-1-2008.pdf.  Jurnal Pendidikan Profesional I (5):4. (19 Desember 2010).

Mangkoedihardjo, S. (2008). Integritas Fitoteknologi Dalam Sanitasi Lingkungan Untuk Pembangunan Berkelanjutan. http://usupress.usu.ac.id/files/Wahana%20Hijau%20Vol_%203%20No_%201%20Agust_%202007.pdf. Journal of Applied Sciences Research. 3 (10):4-6. (17 Desember 2010).

Indraswara, M.S. (2006). Penataan Ruang Terbuka Hijau Kota. http://eprints.undip.ac.id/18486/1/5_sahid_-_taman_kb.pdf.  Jurnal Ilmiah Perencanaan Kota dan Pemukiman V(1):30. (19 Desember 2010).


Share this

Related Posts

First