Ninik (Didedikasikan Untuk Almarhum Ninik)


Sifatnya sangat kekanak-kanakan. Kadang sulit diatur. Sangat sensitif. Mungkin salah satu orang yang memliki tipe melangkolis. Usianya yang telah senja bukan penghalang baginya untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi semua orang-orang terdekatnya. Dilahirkan 68 tahun yang lalu, sudah banyak kenangan yang ia alami.
Mungkin mengeluh sudah menjadi bagian dari hidupnya saat itu. Merepotkan orang lain dan kadang membuat mereka kesal. Tapi bukan itu niat sesungguhnya. Ia hanyalah seorang wanita tua yang begitu lemah. Namun kami seringkali mengeluh karenanya. Membangunkan orang lain ketika terlelap tidur hanya untuk menemaninya buang air ke kamar mandi yang jaraknya kurang dari 20 meter dari kamar, kesal karena ia menginap dirumah, bahkan ketika ia jauh lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri. Pura-pura tidak mendengar atau menjauh dari sana ketika ia memanggil adalah hal yang tidak jarang kami lakukan, sungguh memalukan.
“Ninik mau nginep dirumah? Ih Ninik ini. Gak mau tidur sama Ninik.”
“Ninik ini nyusahin aja. Bangunin tengah malem.”
“Ninik ini handuknya bau sekali.”
“Ninik kalo mandi sama gak mandi sama aja, tetep bau.”
“Ninik ini berludah sembarangan terus. Ih joroknya!”
“Ninik ini urus dirinya sendiri aja gak bisa, mau ngurus orang lain.”
“Ninik kalo makan kayak anak kecil, nasinya banyak jatuh jatuh. Apek dibersihin.”
Ninik ini banyak maunya.”
“Males sama Ninik”
Itulah kata-kata yang sering kami ucapkan ketika mengeluh tentangnya yang selalu saja membuat masalah dan menyusahkan. Seharusnya kami mengerti. Usianya yang sudah senja membutuhkan banyak perhatian. Ia sangat mencintai semua cucu-cucunya, bahkan lebih dari apapun yang ia miliki. Melakukan semuanya.
Ketika ia masih lebih muda dan sehat untuk melakukan semua aktivitas ia selalu membuat jajanan sehat yang enak dirumahnya. Membuat kami sering kerumahnya untuk mencicipi masakannya. Masakan nenek sangat enak. Apapun yang ia masak, entah itu makanan yang biasa atau makanan mewah. Ketika mendapat sentuhan tangannya akan terasa sangat enak. Mungkin tangannya memiliki sentuhan sihir, enthalah. Semua orang yang pernah merasakan masakannya pasti setuju dengan ini. Kami selalu merindukan masakannya.
Sekarang ia sudah berada di alam yang berbeda. Aku selalu merindukannya. Tidak ada yang bisa kami lakukan selain berdoa untukmu yang terbaik. Satu hal yang bisa kita ambil pelajaran dari ini semua. Jagalah mereka yang engkau sayangi, jangan sia-siakan waktu sedikitpun. Jika kau benar-benar menyayanginya, maka janganlah buat mereka kesal dan kecewa sekalipun. Karena waktu tak dapat diputar kembali. Jangan menyesal ketika waktu kalian telah habis bersamanya. Karena susuatu ataupun seseorang yang kita sanyangi akan terasa sangat berharga ketika kita telah kehilangannya untuk selama-selamanya. Untuk ninik, semoga engkau tenang disana.

Dedicated to my grandmother
(Hj. Baiq Mitarasih) 31 Desember 1945 - 8 Oktober 2013
*Ninik = Nenek

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 komentar:

komentar
11 July 2016 at 17:30 delete

Jadi keinget sma almarhum nenek saya :'(

Reply
avatar