Pelangi


“Pelangi itu muncul lagi!” seru Randu melihat ke atas langit seraya menunjuk sesuatu yang dimaksud.

Deretan awan yang berpadu dengan mentari penghangat sore, ditemani dengan pelangi memang terlihat sangat indah. Namun, dibalik keindahan itu tersimpan misteri yang sangat menakutkan.

Aku yang sedang asik duduk di bawah pohon beringin dengan membaca sebuah novel, tak begitu peduli dengan keadaan sekitar, kecuali … pelangi itu. Pelangi di Desaku, Desa Suka Maju. Entah apa maksud dari kehadirannya kali ini, tapi itu menimbulkan tanda tanya besar dalam benakku.

“Hey! Coba tebak? Siapa yang akan meninggal di Desa kita kali ini?” ucap Randu, membuat fokus kami kini tertuju padanya.

“Husss! Kamu ngomong apa? Itu cuman mitos! Enggak ada hubungannya sama pelangi ini!”  dengan agak emosional Andi membalas ucapan Randu.

Aku hanya membisu sambil memandangi sampul novel yang baru saja kututup. Kemudian kupandangi langit sore itu dengan pelangi yang menghiasinya. Membayangkannya—seseorang akan meninggal keesokan harinya setelah pelangi itu muncul—memang sangat di luar akal sehat. Namun, kejadian itu sudah lebih dari tiga kali terjadi di desa kami, dan itu sangat menggemparkan warga. Terlebih lagi dengan kematian yang sangat aneh menimpa mereka. Sudah satu bulan lamanya desa kami tak pernah diguyur hujan, tetapi pelangi itu selalu datang dan seperti meminta korban. Sangat misterius. Menyeramkan.

“Ayo pulang, sebentar lagi gelap.” Aku mengajak mereka untuk segera meninggalkan ladang karena matahari sudah hampir terbenam. Kemudian aku beranjak meninggalkan ladang sambil membersihkan celana yang kotor karena duduk di tanah . Mereka masih saja berdebat tentang kemunculan pelangi itu sambil berjalan mengikuti dari belakang. Aku tak menghiraukannya, meskipun sebenarnya dalam benak penuh dengan tanda tanya mengenai kemunculan pelangi itu.

***

Keesokan harinya, saat berangkat sekolah, terlihat banyak orang sudah berkumpul di depan rumah Pak Timin. Seperti pasar tumpah dari kejauhan.

“Apa yang orang-orang itu lakukan di sana? Pak Timin kan tunawicara, jangan-jangan! Haish!” Aku mengernyit keheranan seraya berfikir sejenak, kemudian tersadar akan sesuatu dan berlari secepat mungkin menuju rumahnya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Mereka yang ada di depan rumah Pak Timin saling berbisik seperti menggunjingkan sesuatu. Terdengar juga suara isak tangis yang samar-samar dari dalam rumah. Spontan kudekati seseorang dan bertanya kepadanya tanpa ragu.

“Pak, ada apa?”

“Hmm …, anu. Pak Timin meninggal,” dengan muka sayu pria paruh baya yang tak kukenal itu menjawab.

Seketika bulu romaku bergidik. Apakah ini memang ada kaitannya dengan pelangi itu? Entahlah. Aku hanya bisa menduga-duga. Tidak ada bukti logis tentang hal ini.

Kulanjutkan perjalanan ke sekolah dengan pikiran mengambang. Mencoba memikirkan kembali apa yang dikatakan Randu kemarin. Flash back beberapa kematian beruntun sejak kemunculan pelangi itu.

Ibu Ani adalah seorang tunarungu yang tinggal seorang diri. Ia ditemukan tewas oleh warga keesokan harinya di depan rumah dengan mulut mengeluarkan busa. Pak Badri adalah seorang tunanetra yang tiba-tiba pingsan saat ingin tidur dan kemudian meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit—juga mengeluarkan busa di mulutnya. Pak Herman adalah seorang tunagrahita yang tak bangun lagi setelah lama tertidur, dan terakhir adalah Pak Sulaiman minggu lalu. Ke empat orang itu meninggal dengan cara yang sama, yaitu saat malam hari dan mulut mengeluarkan busa. Kesamaan lain adalah keempat korban mengidap cacat permanen.

Banyak mitos yang beredar, tapi tak ada satupun yang menyebut tentang pelangi aneh itu. Orang dewasa terlalu sibuk dengan pikirannya masing-masing, seperti adanya santet, pemujaan setan, ilmu perdukunan, atapun hal-hal aneh semacam itu. Pelangi adalah sesuatu yang terlalu indah untuk dikaitkan dengan kejadian menyeramkan semacam ini. Tapi Randu berpikir lain, meskipun ia belum begitu yakin dengan dugaannya.

***

Seminggu berlalu semenjak kematian Pak Timin, banyak gosip yang beredar. Kebanyakan dari mereka menduga kalau Pak Timin di santet. Tapi, dalang dari semua ini belum diketahui sampai saat ini.

Seperti biasa, saat sore menjelang, kami sudah berada di ladang untuk menghabiskan waktu santai kami. Randu terlihat menikmati pemandangan awan yang beriringan sambil tiduran, Andi sangat asik berada di atas pohon sambil memetik beberapa jambu yang kemudian langsung dimakannya, sedangkan aku hanya duduk di bawah pohon beringin sambil membaca buku—karena aku memang suka membaca.

“Hey! Lihat! Pelangi itu muncul lagi!” suara Randu mengagetkan aku dan Andi yang sedang fokus pada urusan kami masing-masing. Andi bahkan nyaris saja jatuh dari atas pohon karena kaget dengan teriakan Randu.

“Mungkin kita harus lapor Pak Mamat. Seharusnya dia punya solusi,” cetus Andi setelah benar-benar turun dari pohon.

“Setuju!” Randu mengiyakan solusi dari Andi. Pak Mamat adalah kepala Desa, jelas dia bertanggung jawab dan harus mengambil tindakan dari apa yang telah terjadi.

“Semoga saja Pak Mamat mau mendengar cerita kita kali ini, sebelum korban berjatuhan semakin banyak.” Aku dan Andi mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Randu.

“Bani! Kau tidak ikut?” tanya Andi kepadaku sambil membersihkan baju dan celananya yang kotor karena memanjat pohon.

Aku hanya menggelengkan kepala tanda penolakan, kemudian tak butuh waktu lama mereka sudah jauh meninggalkanku di ladang.

Malam hampir menjelang dan mereka tak kunjung kembali. Aku memutuskan pulang karena berpikir mereka pasti sudah pulang lebih dulu.

***

Keesokan harinya aku bangun pagi sekali, bahkan sebelum suara ayam berkokok. Bukan karena tak bisa tidur, tapi karena suara ribut dari luar rumah yang menggangguku, entah apa yang sedang terjadi. Kucoba memulihkan kesadaran sebelum berjalan keluar untuk melihat keadaan. Kulihat kerumunan tidak jauh dari rumahku dan kemudian berjalan mendekatinya. Entah itu rumah siapa, kesadaranku belum pulih total untuk mengingatnya.

“Pak, ada apa?” tanyaku kepada salah seorang diantara mereka sambil mengucek mataku yang masih mengantuk.

“Eh, Bani. Anu … Kamu yang tabah ya.” Bapak itu menundukkan kepalanya dan menepuk pundakku.

“Hah? Emang ada apa, Pak?” rumah yang kudatangi itu tampak sangat familiar, tapi kesadaran yang belum pulih total menyebabkanku belum bisa mengingat jelas.

 “Tadi malam, sekitar pukul dua belas petugas ronda nemuin teman kamu, si Randu dan si Andi di kali sudah jadi mayat.” Bapak itu menjawabnya dengan muka sayu.

“Hah!!!” seperti ada aliran listrik yang kemudian menyadarkanku. Tempat ini adalah rumah Randu.

Sekujur tubuhku terasa lemas seketika, badanku tersungkur. Bapak yang tadi berusaha menahanku agak tak jatuh. Aku tak percaya dengan apa yang barus saja dikatakannya, tak menyangka Randu dan Andi yang menjadi korban selanjutnya.

“Apakah ini ada hubungannya dengan pelangi itu? ataukah Pak Mamat? Mengapa harus meraka? Haaiiissh!” dalam hatiku bergejolak. Pikiranku kacau. Entahlah, pelangi itu—aku tak mengerti.

**The End**

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 komentar:

komentar
24 April 2014 at 01:25 delete

Maaf cerita ini tdk mencerminkan style yg lincah dlm berkalinat. Bnyk tumpang tindih adegan n emosi yg tk alamiah. Menurut sy sih.

Reply
avatar