Cerpen Pertama dimuat Majalah HAI: Maunya Apa Sih?

received_10203519619111498
Yah, ini adalah cerpen pertama saya di Majalah. Dan semoga menjadi pintu gerbang menuju cerpen-cerpen selanjutnya yang akan dimuat.

Dibalik pembuatannya, sebenarnya cerpen yang dimuat di majalah HAI ini adalah cerpen dengan rekor pembuatan tercepat saya dengan waktu tempuh dua hari tiga malam. Bagi kebanyakan orang kayaknya buat bikin cerpen cukup  waktu sekali duduk doang. Tapi kok bagi saya itu rasanya sulit banget ya. Ini pun cerpen sebenarnya ide udah lama, cuman eksekusinya aja yang baru.
Sebenarnya judulnya juga bukan yang ada di majalahnya sih, yang saya buat judulnya beda banget. Haha. Yaudah, biar gak makin penasaran langsung aja dibaca cerpen saya tentang cewek di mata cowok yang terbit di majalah Hai edisi 39, 28 September - 4 Oktober 2015. Cerpen yang ini orisinal, sebelum diedit dari pihak redaksinya.

Oh iya, betewe, sampai detik ini saya belum pegang majalahnya lho. Soalnya di daerah saya sekarang majalah Hai edisi 39 belum beredar. *Sedih :'3

***
Dunia Cewek itu Bikin Puyeng
Oleh  : Zi
received_10203519611951319

Cewe itu aneh—setidaknya ungkapan itu yang tersemat di kepalaku atau sebagian besar cowok di kelas. Bukan tanpa alasan. Bayangkan saja, cewek kalau dikasi pilihan bilangnya pasti terserah. Tapi, sekalinya kita—para cowok—yang milih, merekanya seringkali enggak setuju. Terus lagi, gak pernah mau salah, atau lebih tepatnya selalu merasa benar. Kalaupun salah pasti ujung-ujungnya kaum cowok yang harus minta maaf. Aneh kan? Maunya apa? Nasi bungkus? Atau martabak sepesial? Argh! Cewek itu pengin dimengerti dengan cara yang sulit dimengerti.

Namanya Citra, cewekku dari kelas satu SMA yang kebetulan dua tahun ini selalu satu kelas. Cantik, pinter, cerewet, imut, aktif di osis sebagai wakil ketua, dan yang paling bikin aku naksir si doi itu karena dia punya lesung pipi. Pas lagi senyum itu jelas banget keliatan di pipinya, pokoknya adem banget kalau liat dia senyum, serasa nge-fly. Pokoknya lengkap. Kalau aku bilang, dia itu cerminan bidadari, nyaris sempurna. Cuman, ada satu sih yang aku gak suka dari dia. Satu hal sederhana yang sering bikin ngelus dada. Dia itu gampang banget ngambek, dan yang paling parah—seperti yang aku bilang sebelumnya, dia itu kalau marah pasti bilangnya aku enggak peka. Enggak peka bagaimana? Cewek aja yang sulit dimengerti!

Aneh? Iya, menurutku memang cewek itu makhluk paling aneh se-jagad raya. Setidaknya binatang akan menurut pada majikannya, atau tumbuhan akan subur kalau disirami rutin dan diberi pupuk. Enggak kayak Cewek, ada aja yang selalu bikin aku heran tiap hari. Paling enggak hal itu juga diamini Ega, teman sebangku yang kasusnya sama persis kayak aku. Nyaris, sih. Ceweknya enggak sepopuler Citra, Rena cuman anggota osis biasa.

Pagi ini, seperti biasa aku dan motor kesayanganku sudah ada di depan pagar rumahnya menunggu Citra yang lagi dandan untuk berangkat ke sekolah bareng. Menjemput Citra adalah hal rutin yang mulai kulakukan sejak pertama kali jadian. Bahaya kalo sampai enggak, ngambeknya bisa berhari-hari. Terus, malah ujungnya minta putus. Bahaya, Bray!

Dulu, waktu awal-awal jadian aku pernah sekali telat jemput dia. Padahal cuman telat lima menit, tapi gara-gara itu kita musti lari-larian dari tempat parkir ke gerbang yang nyaris banget ditutup. Setelah itu, seperti yang sudah diduga, dia ngambek. Di kelas aku enggak dianggap ada. Diajak ngobrol aku dicuekin, lebih milih ngobrol sama teman-teman ceweknya. Ke kantin juga gitu, dia enggak mau bareng aku. Tapi, pulang sekolah tetap sama aku, cuman ya itu, diajak ngobrol malah cuek bebek. Rutin gitu terus, sampe hari keempat dia ngomel habis-habisan karena aku enggak peka, enggak minta maaf atau enggak ada inisiatif apapun. Katanya gitu. Terus dengan gampangnya aku diputusin. Setelah sempat galau dan curhat sama Ega yang ternyata juga sering mengalami hal serupa, akhirnya aku berinisiatif untuk kasi surprise coklat sama bunga di hari selanjutnya. Tepat di gerbang sekolah pas waktu pulang. Katanya itu so sweet banget, makanya dia mau balikan lagi. Fiuh!

Entahlah, kayaknya kata putus gampang banget keluar dari mulutnya. Kalau enggak sayang dia, udah dari dulu pasti aku putusin dia. Bahkan, cowok yang sayang pun bisa mutusin ceweknya kalau enggak kuat kayak aku.

“Sayang, ayo jalan,” tegur Citra yang ternyata sudah duduk di jok belakang.

Tanpa banyak kata, aku langsung saja mengeber motor menuju sekolah. Selalu saja ada yang memandangku cemburu ketika terlihat berboncengan dengan Citra saat memasuki area sekolah. Padahal, mereka enggak pernah tahu, bagaimana rasanya menjadi aku. Ya emang bahagia sih, hehe.

“Kenapa sih cewek itu egois? Gue capek, emang dikiranya cowok itu robot kali ya? Yang bisa diperlakukan semau ceweknya.” Begitu sampai di bangku dan baru saja melepas tas, Ega dengan rambut kribonya langsung saja mengomel dengan tampang masam kepadaku. Sepertinya dia baru saja ‘dikerjai’ lagi oleh ceweknya.

Belum sempat merespon pertanyaannya yang membrondong, dia sudah mendapatkan sebuah rencana baru.
“Bagaimana kalau kali ini kita biarin aja mereka ngambek? Kita buat mereka ngambek. Lo harus setuju!”
“Heh! Ngawur! Gimana kalau mereka mutusin? Bencana!” Aku enggak mungkin menyetujui rencana itu, sangat beresiko.

“Ya, biarin aja,” jawabnya enteng. Belum sempat aku terkejut dengan jawabannya, dia berkata lagi, “Maksud gue, kalo mereka emang beneran sayang, mereka pasti bakal balik lagi.”

Seketika aku menelan semua kata-kata yang sebelumnya siap kulontarkan padanya dengan nada tinggi. Aku terdiam sejenak, mencoba mencerna maksud dari kata-katanya. Benar juga, kalau mereka sayang, pasti bakal balik lagi.

“Oke, aku setuju!” jawabku semangat, menyetujui rencanya itu.

“Yaudah, nanti pulang sekolah kan kita bareng cewek masing-masing. Kita cuekin aja waktu itu. setelah itu lihat reaksi mereka!” terang Ega padaku.

Akhirnya, untuk pertama kalinya, obrolan kami mencapai sebuah kesepakatan yang akan berpengaruh untuk kehidupan kami di masa yang akan datang.

Ah, aku sudah membayangkan perang dunia ketiga akan segera terjadi. Aku tahu persis bagaimana Citra marah. Bahkan mungkin Hulk dalam film The Avenger akan kalah bila menghadapi Citra yang sedang marah.

***

Tanpa terasa, bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi. Aku memandang Ega dan dia langsung memberikan kode dengan sebuah kedipan sebelah matanya. Aku tersenyum, sangat mengerti arti kedipan itu. Rencana sudah dimulai.

“Ga, aku duluan ya?” Aku mengangkat tangan ketika berada di parkiran dan sudah menunggangi motorku bersama Citra.

“Oke, hati-hati, Bro. Awas nanti ketemu anjing galak!” balas Ega yang kemudian kusambut dengan raut wajah kesal.

Sialan! Kalau sampai Citra tahu rencana kita malah makin bahaya. Sialan Ega! Tapi syukurlah, setelah kulihat Citra sepertinya enggak peduli dan kemudian tersenyum padaku setelah sadar aku menoleh ke belakang untuk melihatnya.

Dalam perjalanan pulang, aku sama sekali enggak ngajak Citra ngobrol, diam bisu kayak patung yang bisa ngendarai motor. Aku makin penasaran bagaimana responnya nanti. Tapi, sepanjang jalan si doi agak beda kayak biasanya. Dia enggak nyerocos cerita tentang banyak hal kayak yang biasa dia lakukan. Dia berbicara tentang dan sangat terkontrol, aku terkesima merasakan perbedaan mencolok ini. Dia cerita tentang kegiatan rapatnya bersama beberapa anggota osis putri lainnya. Ya, beruntung banget Citra dan Rena sedang repot dengan kegiatan osisnya, terutama Citra sebagai wakil ketua, aku jadi enggak perlu bisik-bisik di kelas buat diskusiin rencana ini bareng Ega. Cerita dari Citra hanya kudengar sekilas, lebih fokus pada pikiran dengan segala strategi yang tadi sudah tersusun rapi. Responku pun tak banyak, paling mentok cuman jawaban singkat kayak “hmm” dan sejenisnya.

Tapi ternyata di luar dugaan, rencana kami gagal total. Bahkan setelah sampai di rumahnya pun dia sama sekali enggak terlihat akan marah ataupun kesal. Justru sebaliknya, setelah turun dari motor, dia sempat bilang terima kasih dan memberikan sebuah senyum dengan lesung pipinya yang selalu bikin aku nge-fly. Dan, ini yang paling bikin aku enggak bisa tidur malemnya. Citra cium pipiku, Bray! Gila enggak, tuh. Udah satu tahunan pacaran aku belum pernah dicium sama dia. Benar-benar mukjizat! Tapi, rencana harus tetap berjalan. Aku tetap tak merespun. Bagaimanapun baiknya Citra hari ini, iman harus tetap kuat, rencana harus tetap berjalan! Lebih baik pulang bawa nama, daripada kalah di medan tempur!

Hari selanjutnya juga seperti itu, aku senangnya bukan main. Rencana cuek-cuekan dariku tetap berjalan, namun perang dunia ketiga atau monster mengamuk seperti yang aku bayangkan sebelumnya enggak ada sama sekali. Dan di luar dugaan, ternyata secara kebetulan Ega mengalami hal serupa. Pacarnya jadi jauh lebih pengertian dari sebelumnya. Pokoknya berbeda 180 derajat dari dia yang sebelumnya. Persis kayak aku. Ah, apa jangan-jangan cewek lebih suka dicuekin daripada jadi aku yang biasanya? Aneh!

Hal itu sudah berlangsung satu minggu tanpa ada rasa curiga sedikitpun dari kami. It’s miracle! Aku dan Ega enggak mungkin menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Sampai kutemukan selembar kertas dalam loker meja berisi tulisan yang ditujukan padaku saat akan pulang sekolah.

Sayang, aku nyerah. Awalnya, aku udah punya rencana sama temen-temen cewek, termasuk sama Rena, pacar sahabatmu itu. Rencana buat ngerubah sikap kami yang keterlaluan. Tapi, aku kok dicuekin terus sih sayang? Salahku apa? Padahal, aku kan pengen nyenengin kamu? Apa aku salah kayak gini? Apa sebaiknya aku jadi Citra yang kayak biasa aja? Aku nyerah, Sayang. Aku minta putus.
“Eh?"
***

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »