Cerita Perjalanan dari Malang ke Lombok [Late (banget) Post]

Gambar matahari terbenam
Menikmati Sunset dari atas kapal ferry
Apa teman-teman ada yang pernah melakukan perjalanan jauh menggunakan sepeda motor dengan jarak yang cukup jauh? Saya sering, bahkan sebagaian besar dilakukan seorang diri, yang artinya tanpa ada seorang pun yang membonceng atau saya bonceng. Kalau sudah begitu kan tentu saja menjadi hal biasa bagi saya melakukan perjalanan jarak jauh. Tapi bagaimana awalnya sehingga saya menjadi terbiasa? Tentu saja awalnya saya saat itu berbeda dengan saat ini, meskipun persiapan dan rencana sudah cukup matang tetap saja ada perasaan takut dan ragu.

Waktu itu adalah pertama kalinya bagi saya berkendara menggunakan sepeda motor untuk jarak yang cukup jauh. sebenarnya waktu masih SMP kelas 2 saya pernah berkendara sepeda motor dengan agenda Touring Keliling Lombok, bersama dengan keluarga besar yang kalau ditotal mungkin sekitar 30an lebih, sangat berbeda kondisinya jika berkendara hanya berdua.

Melewati jarak tempuh sekitar 600 kilometer dan dengan 2x menaiki kapal ferry benar-benar pengalaman pertama yang luar biasa bagi saya. Simak ya, saya akan sedikit bercerita pengalaman yang pernah saya alami sekitar dua setengah tahun yang lalu ini.
Tepatnya bulan Oktober 2013, saat saya memutuskan untuk melakukan perjalanan dari Malang menuju Lombok dengan menggunakan sepeda motor. Meskpun sudah cukup lama, tapi rasanya masih cukup menarik untuk diceritakan kembali, apalagi bagi teman-teman yang juga ingin melakukan touring jarak jauh seperti yang saya lakukan ini. Ada beberapa foto dan video iseng yang kami buat saat itu dengan menggunakan alat elektronik yang biasa disebut handycam.

Waktu itu saya bersama parter saya, Iswandi Azhari, berangkat dari Malang sekitar pukul 07:00 pagi dengan kecepatan standar menggunakan motor Jupiter MX keluaran tahun 2008 (motor ini punya banyak kenangan dan bersejarah bagi saya). Di tahun itu belum ada aplikasi GPS atau Google Map, jadi saat itu murni mengandalkan ingatan dari partner saya yang sebelumnya memang sudah pernah melakukan perjalanan dari Malang ke Lombok menggunakan sepeda motor. Karena dia yang tahu jalan itu lah alasan lain saya mengajaknya, selain daripada memang kami adalah teman akrab.

Ini Partner saya: Iswandi Azhari

Ada beberapa hal yang sebelumnya kami persiapkan saat akan melakukan perjalanan. Di antaranya adalah sehari sebelumnya kami sudah membeli masker dan sarung tangan (dalam perjalanan pulan sarung tangannya jatuh sebelah pas saya taruh di kantong jaket), ada juga tas carrier yang waktu itu saya masih pinjam dari teman kos-an dan beberapa keperluan lainnya.

Singkat cerita, setelah sempat molor satu jam dari rencana awal keberangkatan akhirnya kami berangkat pukul tujuh pagi dan istirahat di Situbondo sekitar jam 11an untuk Jumatan karena kebetulan saat itu adalah hari Jumat. Nah, saat dari sana lah awal membuat video. Agak terlambat dan saya sendiri sedikit menyesal kenapa tidak dari awal perjalanan membuat video ini. Dan lagi video yang kami rekam sedikit.

Tidak ada yang spesial yang perlu diceriatakan saat istirahat di masjid selain daripada momen membuat video pertama yang saya terlihat cukup tampan. Kami berangkat dari masjid sekitar pukul satu siang dan sampai di pelabuhan tiga jam kemudian. Ada beberapa video juga yang direkam oleh Iswandi saat saya sedang berkendara. Bagi yang penasaran dengan videonya bisa dilihat di akhir postingan ini.

Tanpa menunggu lama kami pun langsung masuk kapal. Biayanya saya lupa karena itu sudah cukup lama. Lagipula kalaupun ingat pasti harga saat ini sudah jauh lebih mahal. Sebagai seorang muslim yang taat kami shalat Ashar terlebih dahulu sebelum kapal bersandar di Pelabuhan Gilimanuk satu jam kemudian. Buat yang belum tahu jarak Pelabuhan Gilimanuk dan Ketapang sangat dekat bisa dilihat di video. Ke depannya mungkin akan ada jembatan seperti di Suramadu yang menghubungkan kedua pulau ini.

Di dekat pelabuhan Gilimanuk banyak sekali orang Jawa yang membuka warung. Kebetulan terakhir kami makan adalah saat di Malang, jadi tidak ada salahnya makan di salah satu warung makannya meskipun agak ragu-ragu juga apa ini muslim beneran atau orang yang menyamar menjadi muslim. Ah, yang jelas saat itu kami sedang lapar jadi mau tidak mau ya makan di sana.

Entah ini maksud posenya apa

Singkat cerita lagi, setelah perjalan yang saaaaangat panjang akhirnya saya bersama partner saya yang brewokan dan bulu dadanya cukup lebat itu sampai di Pelabuhan Padangbai sekitar pukul 11:30 malam Waktu Indonesia Tengah. Sebelumnya seingat saya, kami sempat Shalat jamak sekaligus istirahat dan cas hape di pom bensin. Saat itu power bank tidak sepopuler saat ini yang hampir setiap orang miliki. Selain itu juga kami sempat tersesat cukup jauh di persimpangan karena Iswandi lupa jalan.

Yah, membicarakan soal kesasar, kalau saja saat itu sudah ada GPS mungkin akan jadi sangat mudah perjalanan ini. Boleh dibaca juga postingan saya tentang GPS ini: Google Map: Aplikasi Tepat untuk Para Traveler

Begitu kami masuk ke dalam kapal dan memilih tempat duduk kapal pun langsung berlayar beruntung ternyata kami datang tepat waktu tanpa harus menunggu lama. Waktu tempuh kapal dari Pelabuhan Padangbai sampai di Pelabuhan Lembar adalah sekitar 5 jam paling lambat. Jadi sudah bisa diperkirakan kalau kami sampai saat waktu subuh. Di Lombok sendiri saat itu adzan Subuh sekitar pukul lima pagi.

Dibalik beberapa hal yang tidak sesuai rencana seperti salah jalan atau waktu keberangkatan yang molor, ternyata kami bisa juga masuk ke kapal dan sampai tepat waktu di Lombok dengan istirahat yang lumayan cukup selama di kapal. Ada beberapa hal menarik yang tidak bisa teman-teman dapatkan ketika melakukan perjalanan jauh menggunakan kendaraan umum dan bisa didapatkan lewat berkendara sepeda motor. Yaitu berhenti di manapun yang disuka untuk sekadar berfoto atau menikmati keindahan alam. Hawa dingin saat melewati hutan, hawa panas saat siang hari, atau wangi laut saat berkendara di dekat pantai juga tentu saja tidak akan bisa didapat dengan kendaraan umum.

Eh, bukan berarti saya mengkampanyekan berkendara jarak jauh menggunakan sepeda motor. Maksud saya, dibalik lelah yang teramat sangat juga ada kenikmatan tersendiri yang hanya bisa diketahui oleh rider sejati. Yuhu.

Ini pesan dari saya, yang mungkin sudah sering didengar dari orang-orang. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum atau saat akan berkendara:

1.    Periksa kondisi motor 

Apakah kondisi motor sudah layak digunakan untuk perjalanan jauh apa belum? Ini sangat penting. Jangan sampai nanti di jalan yang sepi atau bahkan tengah hutan ban motormu pecah. Mau minta tolong siapa?

2.    Jangan paksakan diri saat sudah mulai mengantuk 

Ini penting sekali, meskipun saya kerap melanggar dan bersikeras melanjutkan perjalan dengan menampar pipi berkali-kali agar ngantuk segera hilang. Yang ini jangan ditiru. Kalau sudah mengantuk yang tidak bisa ditahan saya juga akan berhenti dan tidur sekitar 10 atau 15 menit.

3.    Waspada saat berkendara di siang hari  

Siang hari yang dimaksud adalah antara pukul 11 siang sampai pukul satu, karena saat itu kondisi matahari sangat terik dan kemungkinan bisa mengganggu konsentrasi. Saya pernah 2x terjatuh dan beberapa kali hampir, karena konsentrasi terganggu akibat panas terik. Beruntung saat itu laju motor cukup lambat sehingga tidak ada kerusakan serius pada motor dan tanpa luka sama sekali.

4.    Bagi pengguna motor kopling, Jangan biasakan mengerem sambil menahan kopling 

Mungkin bagi pengguna motor kopling sudah tahu hal ini, atau menahan kopling sedikit mungkin tidak masalah. Tapi kalau dibiasakan hal ini bisa berakibat fatal. Ini hanya pengalaman pribadi saya karena saat kita menahan kopling tentu saja laju motor lebih mulus yang memungkinkan motor melaju lebih cepat. Sama seperti saat mengendarai mobil, sangat tidak dianjurkan untuk menginjak pedal rem dan kopling secara bersamaan.
 
5.    Jangan lupa untuk selalu berdoa

Di awal perjalanan, selama perjalanan, dan saat sudah sampai tujuan jangan lupa untuk selalu berdoa. Ada satu amalan doa dari almarhum Niniq saya yang masih saya ingat sampai saat ini. Amalan doa itu yang terus saya ucapkan selama di perjalanan. Yaitu:

Bismillahilladzi la yadurru ma'asmihi syaiun fil ardi wala fissamaa'i wa huwassami'ul aliim
بِسْمِ اللهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْئٌ فِى الاَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّميْعُ العَلِيْمِ - ثَلاَث مَرَّاتٍ
Gambar sunset
Sunset dari atas Ferry


Nah, itu lah cerita yang saat pertama kali berkendara jarak jauh mengarungi 2 pulau. Memang lumayan lelah sih, tapi ada pengalaman berharga di dalamnya yang tidak bisa dibeli dengan uang karena pengalaman adalah harta yang tak ternilai harganya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 komentar:

komentar
13 March 2016 at 13:35 delete

mantab nih ...bisa dicoba kapan-kapan :D.

Reply
avatar